Produk
  Persyaratan
  Cara Pembayaran
  Fitur
   BNI Call
   BNI Point Reward
   Dana Plus
   Executive Airport Lounge
   Isi Ulang Pulsa Ponsel dan Smart Reload
   Layanan Mobile
   Perisai Plus
   Asuransi Bebas Premi
   Transaksi Fitur di ATM BNI
   SmartBill
   e-billing BNI
   SmartSpending
   Tele Travel
   Perlindungan Extra Untuk Anda
   Kartu Tambahan
   Valid Worldwide
  FAQ
BNI Credit Card >   Fitur > Perisai Plus

PERISAIPLUS

 

Memberikan perlindungan bagi Peserta PerisaiPlus terhadap resiko kematian, cacat (ketidakmampuan sementara), cacat tetap akibat sakit/kecelakaan serta perlindungan terhadap 40 penyakit kritis (Critical Illness) dengan premi per bulan sebesar 0,60% dari saldo terhutang.

 

Benefit  Asuransi PerisaiPlus

1.    Santunan Meninggal Dunia

Jika Peserta meninggal dunia karena Sakit* atau Kecelakaan selama berlakunya program Asuransi ini, maka Pihak Asuransi akan membayarkan santunan sebesar 250% (dua ratus lima puluh persen) dari Saldo Terhutang Kartu Kredit BNI Peserta sampai dengan tanggal kematian Peserta meliputi:

a)       Pelunasan Saldo Terhutang Kartu Kredit BNI Peserta kepada BNI dan

b)       Santunan tambahan sebesar 150% (seratus lima puluh persen) Saldo Terhutang Kartu Kredit BNI Peserta yang dipertanggungkan yang akan dibayarkan kepada Ahli Waris Peserta (jika Saldo Terhutang Peserta yang Meninggal Dunia melebihi nilai pertanggungan maksimum dan/atau Peserta memiliki Kartu Kredit BNI lainnya yang tidak terdaftar dalam program Asuransi PerisaiPlus, maka santunan tambahan yang akan dibayarkan kepada Ahli Waris Peserta akan dipergunakan terlebih dahulu untuk melunasi sisa tagihan Kartu Kredit BNI lainnya tersebut), dengan Nilai Santunan Maksimum yang akan dibayarkan jika Peserta meninggal dunia karena sakit atau kecelakaan yaitu:

·      Kartu Biru (kartu kredit utama) sebesar Rp.   50.000.000,-

·      Kartu Emas (kartu kredit utama) sebesar Rp. 100.000.000,-

·      Kartu Titanium / Platinum / Signature / Infinite (kartu kredit utama) sebesar Rp.   500.000.000,-

Selanjutnya kepesertaan PerisaiPlus otomatis berakhir.

 

2.    Ketidakmampuan Sementara

        Jika selama berlakunya Program Asuransi ini, Peserta menderita Sakit atau mengalami Kecelakaan yang menyebabkan Peserta tidak dapat melakukan pekerjaan apapun sedikitnya selama 30 (tiga puluh) hari berturut-turut, yang menurut pertimbangan medis harus dilakukan perawatan rumah sakit dan/atau masih dibutuhkan perawatan tambahan di rumah sebagai tindak lanjut dari perawatan rumah sakit, maka mulai hari ke-31 (tiga puluh satu) Pihak Asuransi akan membayar tagihan bulanan Peserta yang telah jatuh tempo untuk Kartu Kredit BNI yang dipertanggungkan, sebesar tagihan minimum bulanan atau Rp. 50.000,-, untuk kartu Biru dan Emas dan Rp. 100.000,-, untuk kartu Titanium / Platinum / Signature / Infinite, tergantung mana yang lebih besar.  

Perhitungan klaim ketidakmampuan sementara dimulai sejak tanggal dimulainya ketidak-mampuan sampai dengan tanggal pengajuan klaim maksimum 6 (enam) bulan atau hingga nilai santunan maksimum sesuai ketentuan pada Santunan Meninggal Dunia.

Jika setelah pengajuan klaim ternyata Ketidakmampun Sementara masih berlanjut dan klaim yang dibayarkan belum mencapai maksimum 6 (enam) bulan, maka Peserta dapat mengajukan klaim kembali untuk sisa bulan yang belum dibayarkan klaimnya. Jika sebelum masa 6 (enam) bulan Peserta meninggal dunia, maka akan dibayarkan benefit meninggal dunia yaitu sebesar 250% dari Saldo Hutang tagihan Kartu Kredit BNI dan selanjutnya pertanggungan berakhir.

       

3.   Ketidakmampuan Tetap Total

        Jika selama berlakunya Program Asuransi ini Peserta menderita Sakit* atau mengalami Kecelakaan, yang menyebabkan Peserta tidak dapat melakukan suatu pekerjaan, memegang suatu jabatan atau profesi apapun untuk memperoleh penghasilan, imbalan, atau keuntungan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan berturut-turut dan diakui oleh Pihak Asuransi sebagai Ketidakmampuan Tetap Total, akibat Ketidakmampuan sementara dan/atau berdasarkan diagnosa medis ketidakmampuan akan berlanjut selama sisa hidup Peserta (bersifat permanen), maka Pihak Asuransi akan membayarkan sisa saldo terhutang Kartu Kredit BNI Peserta yang dipertanggungkan, sebesar nilai transaksi sampai dengan tanggal dimulainya ketidakmampuan hingga Nilai Santunan Maksimum sesuai ketentuan pada Santunan Meninggal Dunia, dan selanjutnya pertanggungan ketidakmampuan sementara/ tetap total berakhir. Kepesertaan Asuransi akan berakhir jika Santunan Cacat Tetap Total telah dibayarkan.

 

*Sakit yang dipertanggungkan dibawah Program asuransi ini adalah sakit yang diderita oleh Peserta setelah Peserta dipertanggungkan di bawah Program Asuransi ini untuk masa sedikitnya 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal berlakunya asuransi.

 

d.    Santunan Critical Illness

        Jika Peserta mengalami sakit kritis (40 penyakit) dalam Masa Asuransi maka akan dibayarkan manfaat asuransi sebesar 100% dari Saldo terhutang dengan batas maksimum Uang Pertanggungan sebesar:

a)       Kartu Biru (kartu kredit utama): Rp. 10.000.000,-

b)       Kartu Emas (kartu kredit utama): Rp. 20.000.000,-

c)       Kartu Titanium/Platinum/Signature/Infinite (kartu kredit utama): Rp. 50.000.000,-

        selanjutnya pertanggungan Critical Illness berakhir, tetapi benefit asuransi kematian dan Ketidakmampuan sementara/tetap total tetap berjalan.

 

Pengajuan Klaim

Pemberitahuan dan kelengkapan dokumen klaim disampaikan ke BNI selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari kalender sejak dimulainya kejadian.

 

Dokumen yang harus dilengkapi pada saat pengajuan klaim untuk Ketidakmampuan Sementara atau Penyakit Kritis adalah:

Surat pengajuan klaim dari Peserta

Berita acara dari kepolisian, apabila ketidak-mampuan sementara disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.

Resume medis/Medical Report dari Rumah Sakit/ Dokter yang merawat (memakai formulir klaim dari perusahaan Asuransi).

Fotokopi tagihan 2 (dua) bulan terakhir sebelum kejadian.

Surat keterangan ketidakmampuan bekerja dari perusahaan tempat Peserta bekerja

Fotokopi kuitansi dan perincian biaya rawat inap selama di Rumah Sakit yang telah dilegalisir.

 

Dokumen yang harus diserahkan untuk klaim Meninggal Dunia dan Ketidakmampuan Tetap adalah:

Surat pengajuan Klaim dari Peserta/Ahli waris

Surat keterangan kematian dari kelurahan/ Pamong Praja setempat atas nama Peserta.

Berita acara dari kepolisian apabila meninggal dunia disebabkan karena kecelakaan lalu lintas.

Surat keterangan dari Rumah Sakit/Dokter mengenai penyebab kematian yang dilegalisir atau surat keterangan kronologis kematian dari Ahli Waris jika meninggal secara wajar bukan di Rumah Sakit dan tanpa penanganan Dokter (jika meninggal karena sakit).

Resume medis/Medical Report ketidakmampuan tetap dari Dokter/Rumah Sakit untuk Peserta

Surat keterangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia setempat (apabila meninggal di luar wilayah Republik Indonesia).

Fotokopi tagihan 2 (dua) bulan terakhir sebelum kejadian.

Dokumen lain sebagaimana diperlukan, yaitu :

-    Fotokopi Kartu Keluarga

-    Fotokopi KTP Para Ahli Waris

-    Fotokopi Surat Keterangan Ahli Waris disaksikan oleh Kelurahan/Pamong Praja setempat dan diketahui oleh Camat (oleh notaris jika WNI Keturunan)

-    Fotokopi Surat permintaan transfer dari Para Ahli Waris (jika klaim disetujui dan ada santunan tambahan yang diterima Ahli Waris) yang berisi nomor rekening, nama bank dan cabang, atas nama (jika Peserta yang meninggal dunia memiliki Kartu Kredit BNI lainnya yang tidak terdaftar PerisaiPlus, maka santunan tambahan yang akan dibayarkan kepada Ahli Waris Peserta akan dipergunakan terlebih dahulu untuk melunasi sisa tagihan Kartu Kredit BNI lainnya tersebut)

-    Fotokopi surat kuasa dari seluruh Ahli Waris kepada salah seorang Ahli Waris untuk mewakili seluruh Ahli Waris dalam mengurus dan menerima hasil klaim (dalam hal seluruh Ahli Waris tidak dapat melakukan pengurusan klaim secara bersama-sama).

 

 

Dokumen Klaim dikirimkan melalui:

BNI Contact Center

Telepon     : 500046

                      500098 (untuk Infinite)

Ponsel        : (021) 500046

                      (021) 500098 (untuk Infinite)

Fax              : (021) 572 8800 / 572 8774

Website     : www.bni.co.id

E-mail         : bnicall@bni.co.id

                      bniemerald@bni.co.id (untuk Infinite)

Surat           : Wisma 46 Lt. 38

                      Jl. Jendral Sudirman Kav. 1

                      Jakarta 10220

Gallery       : BNI Gallery

                      Wisma 46 Lantai Dasar

                      Jl. Jendral Sudirman Kav. 1 Jakarta 10220

 

 

DAFTAR PENYAKIT KRITIS

 

1.       Stroke                                                                                                               

Serangan serebrovaskuler apapun, yang mengakibatkan gejala sisa neurologis yang permanen, yang berlangsung lebih dari 24 (dua puluh empat) jam, termasuk infark jaringan otak, pendarahan otak, trombosis atau embolisasi dari sumber di luar tengkorak. Bukti defisit neurologis permanen harus ada. Stroke yang diakibatkan langsung oleh penyalah-gunaan alkohol dan obat-obatan merupakan perkecualian.

 

2.       Kanker          

Pertumbuhan baru sel-sel abnormal yang otonom dan berakibat invasi ke jaringan normal. Kanker harus didiagnosa secara positif berdasarkan pemeriksaan mikroskopis atas jaringan yang difiksasi, atau preparat dari sistem darah. Diagnosa tersebut harus semata-mata didasarkan pada kriteria baku mengenai keganasan berdasarkan gambaran histologis akan arsitektur atau pola dari tumor, jaringan atau spesimen yang dicurigai. Kanker kulit kecuali Melanoma Ganas, dan karsinoma in-situ serta lesi CIN (Cervical Intraepithelial Neoplasia) dalam bentuk, tingkat atau klasifikasi apapun tidak termasuk dalam definisi ini.

 

3.       Serangan Jantung       

Infark sebagian otot jantung sebagai akibat kurangnya suplai darah ke jantung. Kriteria diagnostik yang harus dipenuhi pada saat terjadinya serangan tersebut adalah :

a.     Adanya nyeri dada khas pada saat serangan  

b.     Terjadinya peningkatan yang baru pada kadar enzim-enzim jantung

c.     Terjadinya perubahan-perubahan yang baru pada gambaran elektro-kardiografi

 

4.       Operasi Jantung Koroner          

Operasi dengan membuka dinding dada, untuk melakukan operasi pada satu atau lebih pembuluh darah arteri jantung karena penyakit pada pembuluh arteri tersebut. Angioplasti, laser atau prosedur intra arterial lainnya tidak termasuk dalam definisi ini.

 

5.       Operasi Penggantian Katup Jantung       

Operasi dengan membuka jantung untuk mengganti katup-katup jantung, sebagai akibat rusaknya katup jantung yang terjadi setelah tanggal dikeluarkannya atau tanggal pemulihan kontrak tambahan ini, yang mana kemudian.

                                                       

6.       Fulminant Viral Hepatitis          

Penyakit ini didefinisikan sebagai nekrosi hati submassive sampai massive yang disebabkan oleh virus Hepatitis yang dengan cepat mengakibatkan kegagalan fungsi hati.

Kriteria diagnostik berikut ini harus dipenuhi:

        a.     berkurangnya volume hati dengan cepat

        b.     nekrosik meliputi seluruh lobus, dan hanya menyisakan kerangka retikuler yang rusak

        c.     menurunnya test fungsi hati dengan cepat sekali

        d.     kuning yang makin mendalam.

 

7.       Penyakit Hati Kronis   

Penyakit hati tahap akhir yang ditandai dengan semua hal berikut:                  

        a.     kuning yang permanen

        b.     ascites

        c.     enselofati hepatikus

        Penyakit hati yang disebabkan oleh penyalah-gunaan alkohol atau obat-obatan tidak termasuk dalam definisi ini.                   

 

8.       Pulmonary Arterial Hypertension (Primer)          

Penyakit ini didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah pada pembuluh darah arteri pulmonalis yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan pada kapiler pulmonalis, meningkatnya aliran darah pulmonalis atau resistensi pembuluh darah pulmonalis. Kriteria dibawah ini harus dipenuhi:

a.        Dyspnea dan fatigue

b.       Meningkatnya tekanan pembuluh arteri kiri (sedikitnya meningkat 20 unit)

c.        Resistensi Pulmonalis sedikitnya 3 unit di atas normal

d.       Tekanan arteri pulmonalis sedikitnya 40 mm Hg

e.       Tekanan wedge pulmonalis sedikitnya 6 mm Hg

f.         Tekanan end-diastolik ventrikel kanan sedikitnya 8 mm Hg

g.        Hipertrofi ventrikel kanan, dilatasi dan tanda-tanda gagal jantung sebelah kanan dan dekompensasi cordis

 

9.       Penyakit Paru-Paru Tahap Akhir                              

Penyakit paru-paru tahap akhir termasuk penyakit paru-paru intersisial, yang memerlukan terapi oksigen yang ekstensif dan permanen serta hasil test FEV 1 harus kurang dari 1 liter yang diperoleh dengan menggunakan bronchial dilator.

           

10.   Gagal Ginjal                          

Gagal ginjal tahap akhir, yang diperlihatkan sebagai gagal berfungsinya kedua ginjal yang kronis dan tidak dapat pulih kembali, sehingga memerlukan dialysis ginjal yang teratur atau transplantasi ginjal.

 

11.   Anemia Aplastis          

Gagal berfungsinya sumsum tulang yang kronis dan persisten yang mengakibatkan anemia, neutropenia, yang memerlukan sedikitnya salah satu perawatan di bawah ini :

a.        transfusi produk darah

b.       obat penstimulasi sumsum tulang

c.        obat immunosupresif

d.       transplantasi sumsum tulang gangguan pembentukan sel-sel darah ini bukan disebabkan bawaan lahir atau penyalah-gunaan obat

 

12.   Transplantasi Organ Tubuh Penting        

Mengalami operasi sebagai penerima transplantasi organ-organ yaitu: ginjal, jantung, hati, paru-paru, sumsum tulang atau pankreas.

 

13.   Kehilangan Kemampuan Melihat (buta)

Hilangnya penglihatan pada kedua mata secara total dan tidak dapat pulih kembali, disebabkan oleh karena rusaknya sistem syaraf penglihatan disebabkan karena penyakit maupun kecelakaan dan disahkan oleh laporan dokter ahli mata, sebagai akibat penyakit akut atau kecelakaan.

 

 

14.   Kehilangan Kemampunan Mendengar (tuli)         

Kehilangan pendengaran untuk semua jenis suara secara total dan tidak dapat pulih kembali, yang disebabkan penyakit akut atau kecelakaan yang menyebabkan rusaknya syaraf-syaraf pendengaran. Bukti medis harus diberikan oleh dokter ahli yang sesuai (dokter ahli Telinga, Hidung dan Tenggorokan) dan bukti tersebut meliputi test audiometri dan ambang suara.

 

15.   Kehilangan Kemampuan Berbicara (bisu)              

        Kehilangan kemampuan berbicara dan ketidakmampuan melakukan gerakan otot-otot berbicara yang memberikan kontrol motorik koordinasi dan sensasi yang akurat disebabkan oleh karena lesi neurologik secara total dan tidak dapat pulih kembali, yang harus berlangsung selama 12 (dua belas) bulan terus-menerus. Bukti medis harus diberikan oleh dokter ahli yang sesuai (dokter ahli Telinga, Hidung dan Tenggorokan) dan bukti tersebut harus memastikan adanya luka atau penyakit pada pita suara. Segala sebab yang berhubungan dengan masalah kejiwaan tidak termasuk dalam definisi ini. Yang dimaksud dengan kehilangan kemampuan berbicara adalah ketidakmampuan untuk mengeluarkan kata-kata yang dapat dipahami atau bahasa verbal yang dapat dimengerti.

 

16.   Koma             

Keadaan tidak sadar tanpa adanya reaksi atau respons terhadap rangsangan eksternal atau kebutuhan internal yang berlangsung terus-menerus sehingga memerlukan alat penunjang kehidupan termasuk harus digunakannya respirator selama sedikitnya 96 (Sembilan puluh enam) jam. Defisit neurologis permanen harus ada.

        Koma yang diakibatkan langsung oleh penyalah-gunaan alkohol atau obat merupakan perkecualian.

 

17.   Multiple Sclerosis       

Penyakit yang menyebabkan kerusakan sistem syaraf pusat secara progresif yang menyebabkan kerusakan otak dan balans otak. Diagnosis yang pasti tanpa keraguan oleh dokter ahli saraf yang menegaskan kombinasi berikut ini :

a.        Gejala-gejala yang mengarah pada serabut-serabut (substansi putih) yang meliputi saraf optik, batang otak, dan sum-sum tulang belakang, yang mengakibatkan defisit neorologis

b.       Lesi-lesi yang timbul berlainan dan bermacam-macam

c.        Riwayat eksaserbasi dan berhentinya gejala-gejala/defisit neurologis

 

18.   Kelumpuhan

Hilangnya fungsi kedua tangan atau kedua kaki, atau satu lengan atau satu kaki, secara total dan tetap/permanen, baik kelumpuhan yang disebabkan oleh penyakit ataupun kecelakaan, kecuali jika luka tersebut akibat perbuatan sendiri.

 

19.   Muscular Dystrophy   

Gangguan pada otot-otot yang disebabkan oleh penyakit ataupun kecelakaan, dimana adanya gangguan neurologis pada syaraf-syaraf motorik yang bersifat permanen. Diagnosa dystrophy harus dikonfirmasikan oleh dokter ahli syaraf dan bukti tersebut harus didasarkan atas kombinasi tiga dari empat hal berikut, yang menurut pendapat dokter ahli memastikan diagnosa muscular dystrophy:

a.        Riwayat keluarga orang yang bersangkutan

b.       Bukti klinis termasuk tidak adanya gangguan panca indra, cairan serebo-spinal yang normal dan berkurangnya refleks tendon yang ringan

c.        Gambaran elektromyogram yang khas

d.       Kecurigaan klinis yang ditegaskan dengan biopsi otot

 

20.   Penyakit Alzheimer    

Kemunduran atau hilangnya kemampuan intelektual atau tingkah laku yang tidak normal yang dibuktikan melalui keadaan klinis dan kuesioner atau test standar yang dapat diterima mengenai penyakit Alzheimer atau gangguan otak organik degenatif yang tidak dapat pulih kembali, yang mengakibatkan penurunan fungsi mental dan sosial yang nyata sehingga diperlukan pengawasan terus-menerus terhadap tertanggung. Kondisi ini hanya disebabkan oleh karena post traumatic. Terjadinya degenerasi progretif dari sel-sel kornu anterior medula spinalis (lesi lower motor neuron) traktus kortiko spinalis (lesi upper motor neuron) dan nuklei motorik batang otak. Diagnosa harus secara klinis dikonfirmasikan oleh dokter ahli yang sesuai.

 

21.   Penyakit Motor Neoron

Diagnosa yang pasti tanpa keraguan mengenai penyakit Motor Neuron yang diberikan oleh dokter ahli syaraf yang didukung oleh bukti yang pasti dari tanda-tanda dan investigasi neurologis yang sesuai dan relevan berdasarkan :

a.        Penyusutan otot

b.       Elektromiografi

 

22.   Penyakit Parkinson                         

Diagnosa yang pasti tanpa keraguan mengenai penyakit Parkinson yang diberikan oleh dokter ahli saraf dimana keadaan tertanggung seperti dibawah ini:

a.        tidak dapat dikontrol dengan obat-obatan

b.       menunjukan tanda-tanda kerusakan yang progresif

c.        penilaian kegiatan sehari-hari menegaskan ketidakmampuan tertanggung untuk melakukan tanpa bantuan, tiga atau lebih kegiatan berikut: mandi, berpakaian, menggunakan kamar kecil, makan dan kemampuan untuk naik atau turun tempat tidur atau kursi.

Pertanggungan ini hanya untuk penyakit parkinson idiopatik saja. Parkinsonisme yang disebabkan oleh obat-obatan atau bahan toksik merupakan pengecualian.

 

23.   Operasi Pembuluh Aorta          

Operasi yang dilakukan untuk penyakit pada pembuluh aorta yang memerlukan eksisi dan operasi penggantian aorta yang sakit dengan graft. Aorta yang dimaksud dengan definisi ini adalah aorta thorakalis dan abdominalis, dan bukan cabang-cabangnya.

 

24.   Luka Bakar Besar         

Luka bakar derajat tiga (kerusakan atas seluruh lapisan kulit) yang meliputi sedikitnya 20% luas permukaan tubuh.

 

25.   Poliomyelitis

Infeksi kuman polio yang menyebabkan terjadinya paralisis yang permanen dan dibuktikan dengan adanya kelumpuhan fungsi motorik.

 

26.   Bedah Aorta

Pembedahan yang bertujuan untuk memperbaiki penyempitan dissection atau aneurisma dari aorta abdominal atau thoracal, tetapi tidak tidak termasuk cabangnya. Kateterisasi tidak termasuk dalam Bedah Aorta.

 

27.   Meningitis Bakteri      

Radang selaput otak yang dapat menimbulkan eksudasi yang disebabkan oleh kuman. Kriteria meningitis yang dimaksud adalah meningitis yang menyebabkan komplikasi yang menimbulkan cacat neurologik yang permanen berupa paralisis, sampai deserebrasi hydrocephalus.

 

28.   Radang Otak

Infeksi jaringan otak yang menimbulkan komplikasi atau sekuele (gejala sisa) seperti paralisis, gangguan penglihatan, atau gejala neurologik lain secara permanen berdasarkan diagnosa dokter.

 

29.   Tumor Otak Jinak        

Tumor otak jenis angioma yang menyebabkan perdarahan subarachnoid sehingga memerlukan tindakan operasi.

 

 

 

30.   Cardiomyopathy         

Kondisi jantung yang serius, dimana otot jantung tidak mampu secara efektif menerima atau memompa darah dari dan keseluruh tubuh yang bersifat permanen yang diagnosanya berdasarkan:

a.        sesak dan lemas

b.       tekanan ventrikel kanan dan tekanan diastolik paling sedikit 8 mmHg

c.        hipertrofi ventrikel kanan, dilatasi dan tanda dari gagal jantung kanan dan dekompensasi.

 

31.   Pulmonary Valve Surgery         

Adalah prosedur valvotomy atau valvuloplasty dengan cara merobek katub-katub dengan tujuan mengoreksi valvular stenesis. Katub-katub dapat ditempatkan kembali dengan cara mekanikal atau bioprostesis.

 

32.   Pulmonary Incompetence        

Pulmonary incompetence adalah memburuknya aliran darah dari arteri pulmoner ke ventrikal kanan yang disebabkan ketidakmampuan dari katub pulmonal, ditunjukkan dengan adanya pulmonik regurgitation. Diagnosa harus dikonfirmasikan oleh dokter spesialis jantung dengan dibuktikan adanya pemeriksaan echocardiography, yang menunjukkan dilatasi Ventrikal kanan, dengan hipertensi pulmoner.

 

33.   Mitral Valvotomy       

Adalah suatu tindakan operasional untuk merobek katub-katub dan commisura pada atrio ventricular kiri (katub mitral)  dengan tujuan untuk memperbaiki fungsi katub mitral. Tindakan dapat dilakukan dengan atau tanpa pisau ataupun dengan cara mekanikal dilator.

 

34.   Mitral Valve Replacement        

Adalah suatu tindakan prosedur pembedahan dengan cara annuloplasty dan valvuloplasty untuk memperbaiki kerusakan katub-katub mitral. Prosedur tindakan dapat dilakukan dengan mekanikal atau dengan bioprosthesis.

 

35.   Appalic Syndrome      

Appalic Syndrome (Kematian Jaringan Kortek Otak) adalah kematian jaringan lapisan luar korteks otak secara menyeluruh dimana batang otak masih intak. Diagnosa pasti harus dikonfirmasikan oleh dokter spesialis syaraf. Keadaan tersebut harus didokumentasikan secara medik paling tidak selama satu bulan.

 

36.   Terminal Illness

Dalam kondisi penyakit atau stadium akhir yang diderita Tertanggung berdasarkan diagnosis dari dokter pemeriksa serta hal tersebut telah disetujui oleh dokter, Penanggung memprediksi bahwa harapan hidup Tertanggung kurang dari 12 (dua belas) bulan.

Terminal Illness yang disebabkan oleh infeksi HIV dikecualikan dari penyakit ini

 

37.   HIV due to Blood Transfusion and Occupatioanal Acquired HIV

a.        Tertanggung terinfeksi oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) melalui transfusi darah dengan kondisi sebagai berikut:

§  Transfusi darah yang secara medis diperlukan dan diberikan karena merupakan bagian dari pengobatan;

§  Transfusi darah dilakukan di Indonesia setelah Tanggal Polis berlaku, Tanggal Perubahan polis atau Tanggal Pemulihan polis yang mana yang terjadi paling akhir;

§  Sumber infeksi dipastikan berasal dari lembaga yang menyelenggarakan transfusi darah dan lembaga tersebut dapat melacak asal dari darah yang terinfeksi HIV tersebut;

§  Tertanggung bukan merupakan penderita Thalassaemia major atau Haemophilia.

 

b.       Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) didapatkan dari suatu kecelakaan akibat dari  pekerjaannya yang terjadi setelah Tanggal Polis berlaku atau tanggal perubahan Polis atau Tanggal Pemulihan Polis, mana yang paling akhir,  selama Tertanggung melaksanakan tanggung jawab profesi yang normal dari pekerjaannya di Indonesia, dengan mengikuti bukti dan ketentuan yang ada di perusahaan sebagai berikut:

§  Infeksi HIV yang timbul dikarenakan kecelakaan akibat dari pekerjaannya tersebut harus dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal kecelakaan terjadi;

§  Bukti bahwa kecelakaan akibat dari pekerjaannya tersebut adalah penyebab timbulnya infeksi HIV;

§  Bukti bahwa sero-conversion dari HIV negatif menjadi HIV positif terjadi dalam waktu 180 (seratus delapan puluh) hari setelah kecelakaan terjadi. Bukti ini harus dilengkapi dengan melakukan test antibody HIV negatif dalam waktu 5 (lima) hari sejak tanggal kecelakaan akibat dari pekerjaannya;

§  Infeksi HIV yang disebabkan oleh penyebab lain termasuk kegiatan seksual dan penggunaan obat-obatan secra Intavena dikecualikan dari penyakit ini.

 

v  Manfaat ini hanya berlaku jika pekerjaan Tertanggung adalah Tenaga Medis, pelajar Tenaga Medis, perawat berijazah, teknisi laboratorium, dokter gigi, paramedis, bekerja di pusat kesehatan dan klinik (di Indonesia)

v  Manfaat ini tidak berlaku apabila point A dan B telah dilakukan pengobatan medis untuk mengobati AIDS atau untuk mengobati dampak dari infeksi virus HIV atau penatalaksanaan untuk mencegah terjadinya AIDS. Pengobatan yang dimaksud adalah pengobatan yang membuat HIV tidak aktif dan tidak menyebabkan infeksi.

 

38.   Sytemetic Lupus Erythematosus with lupus nephiritis

Penyakit autoimun yang multisistemik dan multifactor yang ditandai oleh peningkatan auto-antibodi yang menyerang berbagai antigen tubuh.  

 

Jenis Lupus Eritematosus yang ditanggung dalam manfaat Pertanggungan Tambahan ini hanya dibatasi pada jenis-jenis Lupus Eitematosus Sistemik yang melibatkan ginjal (Class III sampai Class IV Lupus Nefritis, yang dipastikan dengan biopsy ginjal dan sesuai dengan klasifikasi WHO). 

 

Yang tidak termasuk dalam klaim penyakit kritis Lupus Eritematosus Sistemik ini adalah jenis lupus lainnya, yaitu jenis lupus discoid dan jenis-jenis yang melibatkan persendian dan system hematology. Penegakan diagnosis Lupus Eritematosus Sistemik harus dilakukan oleh seorang Dokter Spesialis Rheumatologi dan Imunologi.

       

Klasifikasi WHO Lupus Nefritis :

Class I                             Minimal Change Lupus Glomerulonephritis

Class II                            Messangial Lupus Glomerulonephritis

Class III                           Focal Segmental Proliferative Lupus Glomerulonephritis

Class IV                           Diffuse Proliferative Lupus Glomerulonephritis

Class V                            Membranous Lupus Glomerulonephritis

 

39.   Encephalitis

Diagnosa inflamasi dari otak (cerebral hemisphere, brainstem atau cerebellum) yang diakibatkan karena infeksi virus, yang menimbulkan komplikasi bermakna yang berlangsung paling sedikit selama 6 (enam) minggu yang mencakup defisit syaraf permanen/menetap dan dikonfirmasi oleh dokter ahli syaraf. Defisit syaraf permanen/ menetap dapat berupa retardasi mental, emosi yang labil, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan bicara, kelemahan atau kelumpuhan

 

Radang otak yang disebabkan oleh infeksi HIV  dikecualikan dari penyakit ini

 

40.   Major Head Trauma

Kecelakaan yang menyebabkan luka pada kepala sehingga mengakibatkan defisit neurologi permanen  yang timbul kurang dari 6 (enam) minggu sejak kecelakaan terjadi sehingga Tertanggung tidak dapat melakukan 3 (tiga) dari 5 (lima) Aktifitas Hidup Sehari-hari selama minimal 6 (enam) bulan. Diagnosa ini harus ditegakkan oleh dokter ahli syaraf dan didukung oleh teknik Magnetic Resonance Imaging, Computerized Tomography atau tehnik lainnya yang diakui. Kecelakaan harus terjadi secara langsung dari luar tubuh secara kasat mata dan tidak tergantung dari sebab yang lain.

 

Kondisi dibawah ini dikecualikan dari penyakit ini :

·         Luka/Trauma pada spinal cord, dan

·         Luka pada kepala dikarenakan sebab lainnya