Produk
  Persyaratan
  Cara Pembayaran
  Fitur
   BNI Reward Point
   Executive Airport Lounge
   Layanan Mobile
   Perisai Plus
   Asuransi Bebas Premi
   Transaksi Fitur di ATM BNI
   BNI Bill Payment
   BNI e-Billing
   BNI Installment
   BNI Tele Travel
   Perlindungan Extra Untuk Anda
  FAQ
BNI Credit Card >   Fitur > Perisai Plus


M
erupakan salah satu fitur Kartu Kredit BNI yang memberikan perlindungan bagi Peserta PerisaiPlus terhadap resiko kematian, cacat (ketidakmampuan sementara), cacat tetap akibat sakit/kecelakaan serta perlindungan terhadap 40 penyakit kritis (Critical Illness).

 

BENEFIT

1.    Santunan Meninggal Dunia

Jika Peserta meninggal dunia karena Sakit* atau kecelakaan selama berlakunya program asuransi ini, maka Pihak Asuransi akan membayarkan santunan sebesar 250% (dua ratus lima puluh persen) dari saldo terhutang Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai Peserta sampai dengan tanggal kematian Peserta meliputi :

a)  pelunasan Saldo Hutang Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai Peserta kepada BNI dan

b)  santunan tambahan sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari saldo terhutang Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai Peserta yang akan dibayarkan kepada ahli waris Peserta dengan ketentuan nilai santunan maksimum yang akan dibayarkan jika Peserta meninggal dunia karena sakit atau kecelakaan tersebut sebesar:

·        Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) per Kartu Kredit Utama untuk Kartu Kredit BNI Silver,

·        Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) per Kartu Kredit Utama untuk Kartu Kredit BNI Gold atau BNI Kartu Tunai Gold dan

·        Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) per Kartu Kredit Utama untuk Kartu Kredit BNI Titanium, Visa Platinum, JCB Platinum, Garuda Platinum, Garuda Signature, Infinite, atau BNI Kartu Tunai Platinum

dan Kepesertaan Program Asuransi otomatis berakhir.

 

Batas nilai santunan maksimum untuk semua jenis Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai   mengacu pada ketentuan batas maksimum masing-masing jenis kartu yaitu Silver, Gold, Titanium, Visa Platinum, JCB Platinum, Garuda Platinum, Garuda Signature, Infinite, BNI Kartu Tunai Gold dan Platinum.

 

Jika Peserta yang meninggal dunia memiliki Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai lainnya yang tidak terdaftar dalam Program Asuransi, maka santunan tambahan yang akan dibayarkan kepada ahli waris Peserta akan dipergunakan terlebih dahulu untuk melunasi sisa tagihan Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai Peserta lainnya tersebut.

 

2.    Santunan Ketidakmampuan Sementara

Jika selama berlakunya program asuransi ini, Peserta menderita Sakit* atau mengalami kecelakaan yang menyebabkan Peserta tidak dapat melakukan pekerjaan apapun sedikitnya selama 30 (tiga puluh) hari berturut-turut, yang menurut pertimbangan medis harus dilakukan perawatan rumah sakit dan/atau masih dibutuhkan perawatan tambahan di rumah sebagai tindak lanjut dari perawatan rumah sakit, maka mulai hari ke-31 (tiga puluh satu) Pihak Asuransi akan membayar Tagihan bulanan Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai yang telah jatuh tempo untuk Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai yang dipertanggungkan, sebesar tagihan minimum bulanan atau:

·      Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) untuk Kartu Kredit BNI Silver dan Gold, BNI Kartu Tunai Gold atau

·      Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) untuk Kartu Kredit BNI Visa Platinum, JCB Platinum, Garuda Platinum, Garuda Signature, Infinite dan BNI Kartu Tunai Platinum,

     tergantung mana yang lebih besar.

 

Perhitungan klaim Ketidakmampuan Sementara untuk transaksi Kartu Kredit sejak tanggal dimulainya Ketidakmampuan sampai dengan tanggal pengajuan klaim maksimum 6 (enam) bulan atau hingga nilai santunan maksimum yang telah ditentukan pada butir 1 di atas. Jika setelah pengajuan klaim ternyata Ketidakmampuan Sementara masih berlanjut dan klaim yang dibayarkan belum mencapai maksimum 6 (enam) bulan, maka Peserta dapat mengajukan klaim kembali untuk sisa bulan yang belum dibayarkan klaimnya. Jika sebelum masa 6 (enam) bulan Peserta meninggal dunia, maka Pihak Asuransi akan membayarkan santunan meninggal dunia yaitu sebesar 250% (dua ratus lima puluh persen) dari Saldo terhutang Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai Peserta sampai dengan tanggal kematian Peserta meliputi poin a) dan b) seperti nomor 1 di atas dan selanjutnya Kepesertaan Program Asuransi berakhir.

 

3.    Santunan Ketidakmampuan Tetap Total

Jika selama berlakunya program asuransi ini Peserta menderita Sakit* atau mengalami kecelakaan, yang menyebabkan Peserta tidak dapat melakukan pekerjaan apapun sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan berturut-turut akibat Ketidakmampuan sementara dan/atau berdasarkan diagnosa medis Ketidakmampuan akan berlanjut selama sisa hidup Peserta (bersifat permanen), maka Pihak Asuransi akan membayarkan Sisa Saldo Hutang Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai Peserta yang dipertanggungkan sebesar nilai transaksi sampai dengan tanggal dimulainya Ketidakmampuan Tetap Total hingga nilai santunan maksimum seperti nomor 1 diatas dan selanjutnya pertanggungan Ketidakmampuan Tetap Total berakhir. Kepesertaan Program Asuransi akan berakhir jika Santunan Ketidakmampuan Tetap Total telah dibayarkan.

 

*Sakit yang dipertanggungkan di bawah program asuransi ini adalah sakit yang diderita oleh Peserta setelah Peserta dipertanggungkan di bawah program asuransi ini untuk masa sedikitnya 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal berlakunya asuransi.

 

4.    Santunan Critical Illness Produk PerisaiPlus

Jika Peserta (Pemegang Kartu Utama) mengalami sakit kritis (salah satu dari 40 penyakit di bawah ini) selama masih terdaftar sebagai peserta PerisaiPlus, maka akan dibayarkan manfaat asuransi sebesar 100% (sertatus persen) dari Saldo terhutang dengan batas maksimum Uang Pertanggungan Critical Illness sesuai jenis kartu kredit yaitu :

a)   Kartu Kredit BNI Silver                                               : Rp. 10.000.000,-

b)   Kartu Kredit BNI Gold, BNI Kartu Tunai Gold            : Rp. 20.000.000,-

c)   Kartu Titanium, Visa Platinum, JCB Platinum,           : Rp. 50.000.000,-

                  Garuda Platinum, Garuda Signature, Infinite

                  dan BNI Kartu Tunai Platinum                                   

selanjutnya pertanggungan Critical Illness berakhir, tetapi benefit asuransi kematian dan Ketidakmampuan sementara/tetap total tetap berjalan.

 

 

PREMI

Pembayaran premi dilakukan setiap bulan sebesar 0,60% (nol koma enam puluh persen) dari Saldo terhutang Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai setiap bulannya.

 

SYARAT KEPESERTAAN

a)  Masih aktif sebagai Pemegang Kartu Kredit Utama BNI atau BNI Kartu Tunai,

b)  Tidak sedang dalam proses hukum karena menunggak pembayaran Kartu Kredit yang dimilikinya,

c)  Berusia 20 (dua puluh) sampai dengan maksimal 64 (enam puluh empat) tahun yang telah mendaftar dan disetujui untuk mengikuti program Asuransi.

d)  Khusus untuk pemegang BNI Kartu Tunai wajib mengikuti PerisaiPlus.

 

KLAIM

Pemberitahuan wajib disampaikan selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari kalender dari tanggal dimulainya kejadian ke BNI Call di 1500046 atau melalui e-mail bnicall@bni.co.id.

 

Dokumen yang harus dilengkapi pada saat pengajuan klaim untuk Ketidakmampuan Sementara atau Penyakit Kritis adalah:

1.    Berita acara dari kepolisian apabila Ketidakmampuan sementara disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.

2.    Resume medis/Medical Report dari rumah sakit/dokter yang merawat (memakai formulir klaim dari perusahaan Asuransi).

3.    Fotokopi tagihan Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai yang memiliki PerisaiPlus 2 (dua) bulan terakhir sebelum kejadian.

4.    Surat keterangan Ketidakmampuan bekerja dari perusahaan tempat Peserta bekerja.

5.    Fotokopi kuitansi dan perincian biaya rawat inap selama di Rumah Sakit yang telah dilegalisir.

6.    Fotokopi Kartu Keluarga dan KTP.

 

Dokumen yang harus diserahkan untuk klaim Meninggal Dunia dan Ketidakmampuan Tetap adalah:

1.    Surat pengajuan Klaim dari Peserta/Ahli waris.

2.    Surat keterangan kematian dari kelurahan/Pamong Praja setempat atas nama Peserta.

3.    Berita acara dari kepolisian apabila meninggal dunia disebabkan karena kecelakaan lalu lintas.

4.    Surat keterangan dari Rumah Sakit/Dokter mengenai penyebab kematian yang dilegalisir atau surat keterangan kronologis kematian dari ahli waris jika meninggal secara wajar bukan di Rumah Sakit dan tanpa penanganan Dokter (jika meninggal karena sakit).

5.    Resume medis/Medical Report Ketidakmampuan Tetap dari Dokter/Rumah Sakit untuk Peserta

6.    Surat keterangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia setempat (apabila meninggal di luar wilayah Republik Indonesia).

7.    Fotokopi tagihan Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai yang memiliki PerisaiPlus 2 (dua) bulan terakhir sebelum kejadian.

8.    Dokumen lain sebagaimana diperlukan Pihak Asuransi, yaitu :

a.   Fotokopi Kartu Keluarga

b.   Fotokopi KTP Para Ahli Waris

c.   Fotokopi Surat Keterangan Ahli Waris disaksikan oleh Kelurahan/Pamong Praja setempat dan diketahui oleh Camat (oleh notaris jika WNI Keturunan).

d.   Fotokopi Surat permintaan transfer dari Para Ahli Waris (jika klaim disetujui dan ada santunan tambahan yang diterima Ahli Waris) yang berisi nomor rekening, nama bank dan cabang, atas nama ahli waris yang ditunjuk mewakili (jika Peserta yang meninggal dunia memiliki Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai lainnya yang tidak terdaftar Program Asuransi, maka santunan tambahan yang akan dibayarkan kepada Ahli Waris Peserta akan dipergunakan terlebih dahulu untuk melunasi sisa tagihan Kartu Kredit BNI atau BNI Kartu Tunai lainnya tersebut).

e.   Fotokopi surat kuasa dari seluruh ahli waris kepada salah seorang ahli waris untuk mewakili seluruh ahli waris dalam mengurus dan menerima hasil klaim (dalam hal seluruh ahli waris tidak dapat melakukan pengurusan klaim secara bersama-sama).

 

Dokumen Klaim dikirimkan ke BNI Contact Center, Wisma 46 Lt. 38, Jl. Jendral Sudirman Kav. 1, Jakarta Pusat 10220, dan selanjutnya BNI akan menyampaikan pemberitahuan Klaim tersebut kepada Pihak Asuransi untuk ditindaklanjuti. Perusahaan Asuransi merupakan pihak yang bertanggung jawab sepenuhnya mengenai hasil keputusan Klaim. Peserta membebaskan BNI dari segala tanggung jawab atas Klaim tersebut.

 

PENGHENTIAN PERLINDUNGAN

Perlindungan akan berakhir pada saat terjadinya salah satu peristiwa berikut ini :

1.    Berakhirnya atau ditutupnya Kartu Kredit BNI dan BNI Kartu Tunai; atau

2.    Kegagalan pembebanan premi melalui Kartu Kredit BNI dan/atau BNI Kartu Tunai pada saat jatuh tempo selama 3 (tiga) bulan berturut-turut (namun apabila dilakukan pembayaran tagihan setidaknya sebesar minimum pembayaran yang telah ditentukan, maka kepesertaan dapat aktif kembali); atau

3.    Peserta meninggal dunia atau menderita Ketidakmampuan Tetap Total; atau

4.    Peserta mencapai usia 65 (enam puluh lima) tahun; atau

5.    Peserta membatalkan Program Asuransi ini; atau

6.    Pihak Asuransi membatalkan Program Asuransi ini karena adanya pernyataan yang tidak benar atau adanya pemalsuan data dalam pengajuan klaim; atau

7.    Nilai santunan maksimum telah dibayarkan.

 

PENGECUALIAN :

Pihak Asuransi tidak akan membayarkan santunan sesuai dengan program asuransi ini jika Kematian, Ketidakmampuan Sementara, Ketidakmampuan Tetap dan Penyakit Kritis yang terjadi diakibatkan oleh:

1.    Perang (baik dinyatakan secara resmi oleh Pemerintah maupun tidak), invasi suatu negara ke negara lain, permusuhan suatu negara dengan negara lainnya, perang saudara, pemberontakan, revolusi, huru-hara, tindakan militer dan terorisme;

2.    Peserta terlibat dalam tugas militer pada angkatan bersenjata atau suatu badan internasional;

3.    Bunuh diri atau usaha yang mengarah pada bunuh diri, menyakiti diri sendiri baik dalam keadaan waras atau tidak waras dalam 2 (dua) tahun pertama kepesertaan;

4.    Pengaruh alkohol dan obat-obatan, kecuali jika terbukti bahwa obat tersebut digunakan atas petunjuk dokter dan bukan dalam hubungan dengan upaya perawatan kecanduan obat;

5.    Peserta terlibat dalam tindakan melawan hukum dan/atau peraturan yang berlaku di negara dimana tindakan tersebut dilakukan oleh Peserta;

6.    Peserta terlibat dalam olah raga profesional dan/atau berbahaya termasuk namun tidak terbatas pada olah raga menyelam dengan alat bantu pernafasan, pendakian gunung dengan alat apapun; terjun payung, layang gantung, olah raga musim dingin dan/atau melibatkan es atau salju, termasuk namun tidak terbatas pada ski es dan kereta luncur, hoki es, bungee jumping atau perlombaan lainnya yang menggunakan kaki dan/atau kendaraan tertentu;

7.    Peserta terlibat dalam penerbangan selain sebagai penumpang pada penerbangan terjadwal;

8.    Terinfeksi HIV, AIDS, ARC, dan segala yang berkaitan dengan akibatnya;

9.    Semua yang berkaitan dengan kehamilan, melahirkan, keguguran dan semua komplikasinya;

10.  Penyakit bawaan sejak lahir;

11.  Kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya kecuali jika Peserta telah dipertanggungkan di bawah program asuransi ini selama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal berlakunya asuransi;

12.  Gangguan mental dan kejiwaan atau sakit jiwa;

13.  Reaksi nuklir, radiasi, atau terkontaminasi zat radio aktif.

 

 

DAFTAR 40 PENYAKIT KRITIS

 

1.    Stroke                                                                                 

Serangan serebrovaskuler apapun, yang mengakibatkan gejala sisa neurologis yang permanen, yang berlangsung lebih dari 24 (dua puluh empat) jam, termasuk infark jaringan otak, pendarahan otak, trombosis atau embolisasi dari sumber di luar tengkorak. Bukti defisit neurologis permanen harus ada.

 

Stroke yang diakibatkan langsung oleh penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan merupakan perkecualian.

 

2.    Kanker     

Pertumbuhan baru sel-sel abnormal yang otonom dan berakibat invasi ke jaringan normal. Kanker harus didiagnosa secara positif berdasarkan pemeriksaan mikroskopis atas jaringan yang difiksasi, atau preparat dari sistem darah. Diagnosa tersebut harus semata-mata didasarkan pada kriteria baku mengenai keganasan berdasarkan gambaran histologis akan arsitektur atau pola dari tumor, jaringan atau spesimen yang dicurigai. Kanker kulit kecuali Melanoma Ganas, dan karsinoma in-situ serta lesi CIN (Cervical Intraepithelial Neoplasia) dalam bentuk, tingkat atau klasifikasi apapun tidak termasuk dalam definisi ini.

 

3.    Serangan Jantung         

Infark sebagian otot jantung sebagai akibat kurangnya suplai darah ke jantung. Kriteria diagnostik yang harus dipenuhi pada saat terjadinya serangan tersebut adalah:

a.   Adanya nyeri dada khas pada saat serangan           

b.   Terjadinya peningkatan yang baru pada kadar enzim-enzim jantung

c.   Terjadinya perubahan-perubahan yang baru pada gambaran elektro-kardiografi

 

4.    Operasi Jantung Koroner         

Operasi dengan membuka dinding dada, untuk melakukan operasi pada satu atau lebih pembuluh darah arteri jantung karena penyakit pada pembuluh arteri tersebut. Angioplasti, laser atau prosedur intra arterial lainnya tidak termasuk dalam definisi ini.

 

5.    Operasi Penggantian Katup Jantung 

Operasi dengan membuka jantung untuk mengganti katup-katup jantung sebagai akibat rusaknya katup jantung yang terjadi setelah tanggal dikeluarkannya atau tanggal pemulihan kontrak tambahan ini, yang mana kemudian.

        

6.    Fulminant Viral Hepatitis          

Penyakit ini didefinisikan sebagai nekrosis hati submassive sampai massive yang disebabkan oleh virus Hepatitis yang dengan cepat mengakibatkan kegagalan fungsi hati. Kriteria diagnostik berikut ini harus dipenuhi:

      a.   berkurangnya volume hati dengan cepat

      b.   nekrosik meliputi seluruh lobus, dan hanya menyisakan kerangka retikuler yang rusak

      c.   menurunnya test fungsi hati dengan cepat sekali

      d.   kuning yang makin mendalam.

 

7.    Penyakit Hati Kronis     

Penyakit hati tahap akhir yang ditandai dengan semua hal berikut:                   

      a.  kuning yang permanen

      b.  ascites

      c.  enselofati hepatikus

 

      Penyakit hati yang disebabkan oleh penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan tidak termasuk dalam definisi ini.                 

 

8.    Pulmonary Arterial Hypertension (Primer)    

Penyakit ini didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah pada pembuluh darah arteri pulmonalis yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan pada kapiler pulmonalis, meningkatnya aliran darah pulmonalis atau resistensi pembuluh darah pulmonalis. Kriteria dibawah ini harus dipenuhi:

a.    Dyspnea dan fatigue

b.Meningkatnya tekanan pembuluh arteri kiri (sedikitnya meningkat 20 unit)

c.   Resistensi Pulmonalis sedikitnya 3 unit di atas normal

d.Tekanan arteri pulmonalis sedikitnya 40 mm Hg

e.Tekanan wedge pulmonalis sedikitnya 6 mm Hg

f.     Tekanan end-diastolik ventrikel kanan sedikitnya 8 mm Hg

g.    Hipertrofi ventrikel kanan, dilatasi dan tanda-tanda gagal jantung sebelah kanan dan dekompensasi cordis

 

9.    Penyakit Paru-Paru Tahap Akhir                     

Penyakit paru-paru tahap akhir termasuk penyakit paru-paru intersisial, yang memerlukan terapi oksigen yang ekstensif dan permanen serta hasil test FEV 1 harus kurang dari 1 liter yang diperoleh dengan menggunakan bronchial dilator.

                                         

10.  Gagal Ginjal              

Gagal ginjal tahap akhir, yang diperlihatkan sebagai gagal berfungsinya kedua ginjal yang kronis dan tidak dapat pulih kembali, sehingga memerlukan dialysis ginjal yang teratur atau transplantasi ginjal.

 

11.  Anemia Aplastis 

Gagal berfungsinya sumsum tulang yang kronis dan persisten yang mengakibatkan anemia, neutropenia, yang memerlukan sedikitnya salah satu perawatan di bawah ini:

a.    transfusi produk darah

b.    obat penstimulasi sumsum tulang

c.    obat immunosupresif

d.    transplantasi sumsum tulang gangguan pembentukan sel-sel darah ini bukan disebabkan bawaan lahir atau penyalahgunaan obat

 

12.  Transplantasi Organ Tubuh Penting  

Mengalami operasi sebagai penerima transplantasi organ-organ yaitu: ginjal, jantung, hati, paru-paru, sumsum tulang atau pankreas.

 

13.  Kehilangan Kemampuan Melihat (buta)         

Hilangnya penglihatan pada kedua mata secara total dan tidak dapat pulih kembali, disebabkan oleh karena rusaknya sistem syaraf penglihatan disebabkan karena penyakit maupun kecelakaan dan disahkan oleh laporan dokter ahli mata, sebagai akibat penyakit akut atau kecelakaan.Kehilangan Kemampunan Mendengar (tuli) 

 

14.  Kehilangan Kemampuan Mendengar (tuli)

Kehilangan pendengaran untuk semua jenis suara secara total dan tidak dapat pulih kembali, yang disebabkan penyakit akut atau kecelakaan yang menyebabkan rusaknya syaraf-syaraf pendengaran. Bukti medis harus diberikan oleh dokter ahli yang sesuai (dokter ahli Telinga, Hidung dan Tenggorokan) dan bukti tersebut meliputi test audiometri dan ambang suara.

 

15.  Kehilangan Kemampuan Berbicara (bisu)                 

      Kehilangan kemampuan berbicara dan ketidakmampuan melakukan gerakan otot-otot berbicara yang memberikan kontrol motorik koordinasi dan sensasi yang akurat disebabkan oleh karena lesi neurologik secara total dan tidak dapat pulih kembali, yang harus berlangsung selama 12 (dua belas) bulan terus-menerus. Bukti medis harus diberikan oleh dokter ahli yang sesuai (dokter ahli Telinga, Hidung dan Tenggorokan) dan bukti tersebut harus memastikan adanya luka atau penyakit pada pita suara. Segala sebab yang berhubungan dengan masalah kejiwaan tidak termasuk dalam definisi ini. Yang dimaksud dengan kehilangan kemampuan berbicara adalah ketidakmampuan untuk mengeluarkan kata-kata yang dapat dipahami atau bahasa verbal yang dapat dimengerti.

 

16.  Koma       

Keadaan tidak sadar tanpa adanya reaksi atau respon terhadap rangsangan eksternal atau kebutuhan internal yang berlangsung terus-menerus sehingga memerlukan alat penunjang kehidupan termasuk harus digunakannya respirator selama sedikitnya 96 (Sembilan puluh enam) jam. Defisit neurologis permanen harus ada.

 

      Koma yang diakibatkan langsung oleh penyalahgunaan alkohol atau obat merupakan perkecualian.

 

17.  Multiple Sclerosis          

Penyakit yang menyebabkan kerusakan sistem syaraf pusat secara progresif yang menyebabkan kerusakan otak dan balans otak. Diagnosis yang pasti tanpa keraguan oleh dokter ahli saraf yang menegaskan kombinasi berikut ini:

a.    Gejala-gejala yang mengarah pada serabut-serabut (substansi putih) yang meliputi saraf optik, batang otak, dan sumsum tulang belakang, yang mengakibatkan defisit neorologis

b.Lesi-lesi yang timbul berlainan dan bermacam-macam

c.   Riwayat eksaserbasi dan berhentinya gejala-gejala/defisit neurologis

 

18.  Kelumpuhan       

Hilangnya fungsi kedua tangan atau kedua kaki, atau satu lengan atau satu kaki, secara total dan tetap/permanen, baik kelumpuhan yang disebabkan oleh penyakit ataupun kecelakaan, kecuali jika luka tersebut akibat perbuatan sendiri.

 

19.  Muscular Dystrophy      

Gangguan pada otot-otot yang disebabkan oleh penyakit ataupun kecelakaan, dimana adanya gangguan neurologis pada syaraf-syaraf motorik yang bersifat permanen. Berdasarkan kontrak ini, diagnosa dystrophy harus dikonfirmasikan oleh dokter ahli syaraf, dan bukti tersebut harus didasarkan atas kombinasai tiga dari empat hal berikut, yang menurut pendapat dokter ahli memastikan diagnosa muscular dystrophy:

a.    Riwayat keluarga orang yang bersangkutan

b.    Bukti klinis termasuk tidak adanya gangguan panca indra, cairan serebo-spinal yang normal dan berkurangnya refleks tendon yang ringan

c.    Gambaran elektromyogram yang khas

d.    Kecurigaan klinis yang ditegaskan dengan biopsi otot

 

20.  Penyakit Alzheimer       

Kemunduran atau hilangnya kemampuan intelektual atau tingkah laku yang tidak normal yang dibuktikan melalui keadaan klinis dan kuesioner atau test standar yang dapat diterima mengenai penyakit Alzheimer atau gangguan otak organik degenatif yang tidak dapat pulih kembali, yang mengakibatkan penurunan fungsi mental dan sosial yang nyata sehingga diperlukan pengawasan terus-menerus terhadap Peserta. Kondisi ini hanya disebabkan oleh karena post traumatic. Terjadinya degenerasi progretif dari sel-sel kornu anterior medula spinalis (lesi lower motor neuron) traktus kortiko spinalis (lesi upper motor neuron) dan nuklei motorik batang otak. Diagnosa harus secara klinis dikonfirmasikan oleh dokter ahli yang sesuai.

 

21.  Penyakit Motor Neoron

Diagnosa yang pasti tanpa keraguan mengenai penyakit Motor Neuron yang diberikan oleh dokter ahli syaraf yang didukung oleh bukti yang pasti dari tanda-tanda dan investigasi neurologis yang sesuai dan relevan berdasarkan:

a.      Penyusutan otot

b.      Elektromiografi

 

22.  Penyakit Parkinson          

Diagnosa yang pasti tanpa keraguan mengenai penyakit Parkinson yang diberikan oleh dokter ahli saraf dimana keadaan Peserta seperti di bawah ini:

a.tidak dapat dikontrol dengan obat-obatan

b.menunjukan tanda-tanda kerusakan yang progresif

c.    penilaian kegiatan sehari-hari menegaskan ketidakmampuan Peserta untuk melakukan tanpa bantuan, tiga atau lebih kegiatan berikut: mandi, berpakaian, menggunakan kamar kecil, makan dan kemampuan untuk naik atau turun tempat tidur atau kursi.

        

      Pertanggungan ini hanya untuk penyakit parkinson idiopatik saja. Parkinsonisme yang disebabkan oleh obat-obatan atau bahan toksik merupakan pengecualian.

 

23.  Operasi Pembuluh Aorta          

Operasi yang dilakukan untuk penyakit pada pembuluh aorta yang memerlukan eksisi dan operasi penggantian aorta yang sakit dengan graft. Aorta yang dimaksud dengan definisi ini adalah aorta thorakalis dan abdominalis, dan bukan cabang-cabangnya.

 

24.  Luka Bakar Besar          

Luka bakar derajat tiga (kerusakan atas seluruh lapisan kulit) yang meliputi sedikitnya 20% luas permukaan tubuh.

 

25.  Poliomyelitis       

Infeksi kuman polio yang menyebabkan terjadinya paralisis yang permanen dan dibuktikan dengan adanya kelumpuhan fungsi motorik.

 

26.  Bedah Aorta       

Pembedahan yang bertujuan untuk memperbaiki penyempitan dissection atau aneurisma dari aorta abdominal atau thoracal, tetapi tidak tidak termasuk cabangnya. Kateterisasi tidak termasuk dalam Bedah Aorta.

 

27.  Meningitis Bakteri         

Radang selaput otak yang dapat menimbulkan eksudasi yang disebabkan oleh kuman. Kriteria meningitis yang dimaksud adalah meningitis yang menyebabkan komplikasi yang menimbulkan cacat neurologik yang permanen berupa paralisis, sampai deserebrasi hydrocephalus.

 

28.  Radang Otak      

Infeksi jaringan otak yang menimbulkan komplikasi atau sekuele (gejala sisa) seperti paralisis, gangguan penglihatan, atau gejala neurologik lain secara permanen berdasarkan diagnosa dokter.

 

29.  Tumor Otak Jinak          

Tumor otak jenis angioma yang menyebabkan perdarahan subarachnoid sehingga memerlukan tindakan operasi.

 

30.  Cardiomyopathy

Kondisi jantung yang serius, dimana otot jantung tidak mampu secara efektif menerima atau memompa darah dari dan keseluruh tubuh yang bersifat permanen yang diagnosanya berdasarkan:

a.    sesak dan lemas

b.    tekanan ventrikel kanan dan tekanan diastolik paling sedikit 8 mmHg

c.    hipertrofi ventrikel kanan, dilatasi dan tanda dari gagal jantung kanan dan dekompensasi.

 

31.  Pulmonary Valve Surgery         

Adalah prosedur valvotomy atau valvuloplasty dengan cara merobek katub-katub dengan tujuan mengoreksi valvular stenesis. Katub-katub dapat ditempatkan kembali dengan cara mekanikal atau bioprostesis.

 

32.  Pulmonary Incompetence         

Pulmonary incompetence adalah memburuknya aliran darah dari arteri pulmoner ke ventrikal kanan yang disebabkan ketidakmampuan dari katub pulmonal, ditunjukkan dengan adanya pulmonik regurgitation. Diagnosa pasti harus dikonfirmasikan oleh dokter spesialis jantung dengan dibuktikan adanya pemeriksaan echocardiography, yang menunjukkan dilatasi Ventrikal kanan, dengan hipertensi pulmoner.

 

33.  Mitral Valvotomy

Mitral valvotomy adalah suatu tindakan operasional untuk merobek katub-katub dan commisura pada atrio ventricular kiri (katub mitral) dengan tujuan untuk memperbaiki fungsi katub mitral. Tindakan dapat dilakukan dengan atau tanpa pisau ataupun dengan cara mekanikal dilator.

 

34.  Mitral Valve Replacement         

Mitral valve Replacement adalah suatu tindakan prosedur pembedahan dengan cara annuloplasty dan valvuloplasty untuk memperbaiki kerusakan katub-katub mitral. Prosedur tindakan dapat dilakukan dengan mekanikal atau dengan bioprosthesis.

 

35.  Appalic Syndrome         

Appalic Syndrome (Kematian Jaringan Kortek Otak) adalah kematian jaringan lapisan luar korteks otak secara menyeluruh dimana batang otak masih intak. Diagnosa pasti harus dikonfirmasikan oleh dokter spesialis syaraf. Keadaan tersebut harus didokumentasikan secara medik paling tidak selama satu bulan.

 

36.  Terminal Illness

Dalam kondisi penyakit atau stadium akhir yang diderita Peserta berdasarkan diagnosis dari dokter pemeriksa serta hal tersebut telah disetujui oleh dokter Pihak Asuransi memprediksi bahwa harapan hidup Peserta kurang dari 12 (dua belas) bulan.

Terminal Illness yang disebabkan oleh infeksi HIV dikecualikan dari penyakit ini.

 

37.  HIV due to blood transfusion and occupatioanal acquired HIV

a.    Peserta terinfeksi oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) melalui transfusi darah dengan kondisi sebagai berikut :

§  Transfusi darah yang secara medis diperlukan dan diberikan karena merupakan bagian dari pengobatan;

§  Transfusi darah dilakukan di Indonesia setelah Tanggal Polis berlaku, Tanggal Perubahan polis atau Tanggal Pemulihan polis yang mana yang terjadi paling akhir;

§  Sumber infeksi dipastikan berasal dari lembaga yang menyelenggarakan transfusi darah dan lembaga tersebut dapat melacak asal dari darah yang terinfeksi HIV tersebut;

§  Peserta bukan merupakan penderita Thalassaemia major atau Haemophilia.

 

b.    Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) didapatkan dari suatu kecelakaan akibat dari pekerjaannya yang terjadi setelah Tanggal Polis berlaku atau tanggal perubahan Polis atau Tanggal Pemulihan Polis, mana yang paling akhir, selama Peserta melaksanakan tanggung jawab profesi yang normal dari pekerjaannya di Indonesia, dengan mengikuti bukti dan ketentuan yang ada di perusahaan sebagai berikut :

§  Infeksi HIV yang timbul dikarenakan kecelakaan akibat dari pekerjaannya tersebut harus dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal kecelakaan terjadi;

§  Bukti bahwa kecelakaan akibat dari pekerjaannya tersebut adalah penyebab timbulnya infeksi HIV;

§  Bukti bahwa sero-conversion dari HIV negatif menjadi HIV positif terjadi dalam waktu 180 (seratus delapan puluh) hari setelah kecelakaan terjadi. Bukti ini harus dilengkapi dengan melakukan test antibody HIV negatif dalam waktu 5 (lima) hari sejak tanggal kecelakaan akibat dari pekerjaannya;

§  Infeksi HIV yang disebabkan oleh penyebab lain termasuk kegiatan seksual dan penggunaan obat-obatan secra Intavena dikecualikan dari penyakit ini.

 

v  Manfaat ini hanya berlaku jika pekerjaan Peserta adalah Tenaga Medis, pelajar Tenaga Medis, perawat berijazah, teknisi laboratorium, dokter gigi, paramedis, bekerja di pusat kesehatan dan klinik (di Indonesia).

v  Manfaat ini tidak berlaku apabila point A dan B telah dilakukan pengobatan medis untuk mengobati AIDS atau untuk mengobati dampak dari infeksi virus HIV atau penatalaksanaan untuk mencegah terjadinya AIDS. Pengobatan yang dimaksud adalah pengobatan yang membuat HIV tidak aktif dan tidak menyebabkan infeksi.

 

38.  Sytemetic Lupus Erythematosus with lupus nephiritis

Penyakit autoimun yang multisistemik dan multifactor yang ditandai oleh peningkatan auto-antibodi yang menyerang berbagai antigen tubuh.  

 

Jenis Lupus Eritematosus yang ditanggung dalam manfaat Pertanggungan Tambahan ini hanya dibatasi pada jenis-jenis Lupus Eitematosus Sistemik yang melibatkan ginjal (Class III sampai Class IV Lupus Nefritis, yang dipastikan dengan biopsy ginjal dan sesuai dengan klasifikasi WHO). 

 

Yang tidak termasuk dalam klaim penyakit kritis Lupus Eritematosus Sistemik ini adalah jenis lupus lainnya, yaitu jenis lupus discoid dan jenis-jenis yang melibatkan persendian dan system hematology. Penegakan diagnosis Lupus Eritematosus Sistemik harus dilakukan oleh seorang Dokter Spesialis Rheumatologi dan Imunologi

     

Klasifikasi WHO Lupus Nefritis :

Class I       Minimal Change Lupus Glomerulonephritis

Class II      Messangial Lupus Glomerulonephritis

Class III     Focal Segmental Proliferative Lupus Glomerulonephritis

Class IV     Diffuse Proliferative Lupus Glomerulonephritis

Class V      Membranous Lupus Glomerulonephritis

 

39.  Encephalitis

Diagnosa inflamasi dari otak (cerebral hemisphere, brainstem atau cerebellum) yang diakibatkan karena infeksi virus, yang menimbulkan komplikasi bermakna yang berlangsung paling sedikit selama 6 (enam) minggu yang mencakup defisit syaraf permanen / menetap dan dikonfirmasi oleh dokter ahli syaraf. Defisit syaraf permanen / menetap dapat berupa retardasi mental, emosi yang labil, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan berbicara, kelemahan atau kelumpuhan.

 

Radang otak yang disebabkan oleh infeksi HIV dikecualikan dari penyakit ini.

 

40.  Major Head Trauma

Kecelakaan yang menyebabkan luka pada kepala sehingga mengakibatkan defisit neurologi permanen yang timbul kurang dari 6 (enam) minggu sejak kecelakaan terjadi sehingga Peserta tidak dapat melakukan 3 (tiga) dari 5 (lima) Aktifitas Hidup Sehari-hari selama minimal 6 (enam) bulan. Diagnosa ini harus ditegakkan oleh dokter ahli syaraf dan didukung oleh tehnik Magnetic Resonance Imaging, Computerized Tomography atau tehnik lainnya yang diakui. Kecelakaan harus terjadi secara langsung dari luar tubuh secara kasat mata dan tidak tergantung dari sebab yang lain.

 

Kondisi dibawah ini dikecualikan dari penyakit ini :

·         Luka/Trauma pada spinal cord, dan

 

·         Luka pada kepala dikarenakan sebab lainnya